Tuesday, March 28, 2017

Pencapaian (2)

Jujur, gue masih suka iri ngeliat teman-teman gue yang udah sukses meraih mimpinya. Berbagai hal biasanya memenuhi kepala gue tepat setelah kabar yang seharusnya bahagia itu terdengar:

"Kok dia keren banget sih bisa bla bla bla?"
"Apa sih yang dia lakukan supaya bisa begitu?"
"Kenapa lo ngga bisa kayak dia, Pril?"
"Sekarang apa yang akan lo lakukan biar bisa sukses kayak dia?"

Gue ngga bisa memungkiri bahwa gue sedikit merasa... well, apa ya... terintimidasi dengan kesuksesan mereka? Lalu gue melihat diri gue seperti orang yang gagal: lo ngapain aja selama hidup lo, Pril? Mereka aja udah bisa jadi bla bla bla sementara lo masih stuck di tempat yang sama.


Kalo boleh jujur, kabar seperti itu lebih membuat gue kecewa dengan diri gue sendiri dibanding membuat gue termotivasi. Meskipun pada akhirnya gue akan luar biasa produktif, sih, setelah pertempuran sulit melawan ketidakpercayaan diri gue sendiri.

Kemudian gue sadar, sebenarnya dengan gue berhasil melawan ketidakpercayaan diri gue sendiri itu bukankah suatu pencapaian?

Singkat kata, awalnya gue ini sangat pemalu dan pengecut, yang ngomong ke guru dan temen-temen sekelas aja ngga berani (lihat: Pencapaian (1)). Duduk juga selalu di belakang dan kadang ngga berani ke kantin atau bahkan ke toilet. Di SMP, gue bertekad untuk menaklukan sifat pemalu gue dengan menjadi orang yang benar-benar berbeda dari gue saat itu. Yang menjadi titik balik gue adalah saat gue membuat seisi kelas tertawa karena gue false saat nyanyi Burung Tantina, lagu daerah Maluku. Gue pikir, gue bakal malu setelah orang-orang ngetawain gue. Ternyata gue malah ngerasa puas dan bahagia hahah.

Semua cerita tentang masa-masa kelam gue yang sepertinya mempunyai anxiety bisa lo baca di Pencapaian (1).

Semenjak saat itu kepercayaan diri gue meningkat drastis. Waktu SMP, gue aktif di berbagai ekstrakurikuler, seperti Pramuka dan PMR. Gue bahkan berhasil meraih juara 1 bersama tim inti Pramuka SMP gue dan jadi wakil ketua ekskul PMR (yang sebenarnya gue menang waktu pemilihan kandidat ketua tapi gue mengundurkan diri karena gue juga Pramuka). Selain itu, gue jadi senang melontarkan jokes-jokes aneh dan ngga masalah untuk melontarkan jokes itu di depan kelas.

Di SMA, gue juga aktif ekskul Saman. Percayalah, masuk ekskul Saman di sekolah gue itu sulit. Di saat yang sama gue dikenalkan dengan dunia gosip, dan masih kerajingan sampai saat ini HAHA. Untuk pertama kalinya juga, gue bertemu dengan orang-orang yang ngga suka dengan gue secara terang-terangan dan gue sama sekali tidak terintimidasi dengan mereka. Kalo gue masih April yang sama saat SD, gue mungkin udah sakit-sakitan wakaka.

Saat kuliah gue bahkan lebih aktif lagi di berbagai organisasi dan kepanitiaan. Presentasi udah jadi makanan sehari-hari, meskipun skill berbicara masih harus ditingkatkan. Gue pun menemukan talent terpendam gue, yaitu mengajak dan sedikit memanipulasi dengan tujuan baik HAHAHAHAH. Selama 3.5 tahun gue kuliah, gue udah ngadain tiga kali workshop ke internal kampus.

Jir, Pril, dan lo masih berpikir kalo lo ngga pernah mencapai apapun dalam hidup lo.

Saat ini gue nyaris 22 tahun, sedang sibuk menyelesaikan skripsi untuk mendapatkan gelar S.Kom di Universitas Indonesia. Kepala gue sedang dipenuhi dengan pikiran-pikiran negatif, salah satunya adalah rasa takut gue untuk menghadapi dunia pasca kuliah. Kalo ngeliat temen-temen gue yang udah berhasil menggapai impiannya, gue minder. Kenapa gue ngga bisa kayak mereka?

Setelah gue menuliskan ini semua, gue sadar bahwa kita semua berbeda: mereka si teman-teman gue yang udah sukses itu mungkin punya starting point yang beda dari gue. Inget, sifat pemalu dan pengecut gue dulu mengarah ke akut. Sampai saat ini, gue bahkan masih punya kepercayaan diri yang rendah meskipun gue udah lumayan sering ngomong di hadapan orang banyak. Di saat gue sibuk untuk mengalahkan rasa ketidak-percayaan diri gue yang akut ini, mereka pastinya udah selangkah lebih maju dari gue. Dan bukan berarti gue ngga mencapai apa-apa, di saat gue berhasil mengalahkan rasa takut gue atau ketidakpercayaan diri gue dengan usaha yang ngga kalah besarnya dengan usaha mereka.

Pencapaian gue mungkin ngga sehebat teman-teman gue yang udah berhasil kerja di Silicon Valley atau berhasil mendirikan startup-nya sendiri. Tapi pencapaian tetaplah pencapaian, sekecil apapun itu, dan seharusnya gue menghargai usaha yang udah gue keluarkan untuk mencapai hal tersebut. Pencapaian itu relatif, dan hidup bukanlah perlombaan dengan hidup orang lain.

No comments:

Post a Comment

Tanya kenapa?