Tuesday, November 9, 2010

Laki-Laki Laknat

jam telah menunjukkan pukul 18.30 dimana kedudukan matahari telah tergantikan oleh bulan. namun kehadiran awan-awan kelabu membuat keadaan langit pada saat itu sangat suram; gemuruh serta kilat yang mengiringi rintikan hujan yang jatuh ke permukaan bumi, dan cahaya temaram yang berasal dari sebuah lampu 5 watt yang ada di ujung jalan.

anak perempuan itu berlari melintasi jalan setapak yang merupakan satu-satunya jalan pintas untuk menuju ke rumahnya. baju pramuka yang ia kenakan pun basah diguyur hujan. ia tak lagi memikirkan suasana malam itu yang seram, dengan pepohonan tinggi dan besar yang ada di sisi-sisi kanan jalan, dan suara tokek (apapun tulisannya ya) yang bersembunyi dibalik ilalang ilalang tinggi dan tak beraturan. satu hal yang ada dalam pikirannya saat itu adalah, rumah.

yeah, capek gue pake bahasa puitis-yang-sangat-tidak-puitis. ya pokoknya lagi ujan gitu, gue ngeliat sesuatu yang punya tangan, kaki, kepala, leher, dan anggota tubuh lainnya yang berdiri dibawah dan menghadap pohon pisang yang ga jauh dari gue. bulu kuduk gue berdiri. apakah itu......setan? hal yang bisa gue buktikan dan yang pertama kali gue lakukan adalah melihat kakinya? mengapa kaki? karna gue inget kata orang orang, kalo lo ngeliat sesuatu yang kakinya napak, berarti sesuatu itu orang. tapi kalo ga napak, well, Allahualam.

dan gue sungguh sangat bersyukur, walaupun hanya kaki yang beralaskan sendal swallow yang gue liat, setidaknya kakinya napak.

sadar akan kehadiran seorang anak jahanam ini, si manusia-yang-gue-rasa-adalah-seorang-laki-laki noleh ke gue, terus dia kaget. gue juga kaget. jadi kita sama-sama kaget. oke, jadi si cowok itu langsung kaget-sekaget-kagetnya orang kaget (pansi), sampe badannya kedorong kebelakang, dan langsung menaikkan resleting celana jeans nya. wait! resleting celana jeans nya? IYA! DIA BARU AJA PIPIS DI BAWAH POHON PISANG!

gue langsung diem, masih mencari makna dibalik semua ini. namun akhirnya sadar akan perbuatan laknat seorang laki-laki yang baru aja pipis sembarangan dibawah pohon pisang. gue langsung menggumam dengan keras (berarti bukan gumaman lagi dong ya?) "Astagaaaaa!" terus si laki laki laknat itu langsung lari. sialaaaaan! yang bikin gue nyesek, bukan karna gue baru aja ngeliat itu orang lagi pipis, tapi karna pohon pisang itu adalah satu-satunya jalan yang harus gue tempuh kalo mau pulang. itu artinya...gue harus melewati genangan air pipis milik si laki-laki laknat itu. lo bayangkan! BAYANGKAN!

dengan berjinjit, gue pun melewati genangan air kuning (apadeh gue). kenapa gue jinjit? kenapa gue ga loncat aja? well, bayangkan men, waktu itu lagi ujan. dan di jalan itu agak sedikit banjir, yeah, palingan 10 cm. itu berarti genangan air pipis si laki-laki laknat itu bercampur sama genangan air hujan. itu yang gue takutkan. makanya gue jinjit, kalo gue loncat kan ntar air nya nyiprat-nyiprat lagi ke rok gue. dan itu....menjijikan.

pokoknya, setelah menyadari sepatu gue yang tidak lagi suci (?), sepulang sekolah itu sepatu langsung gue rendem di air, sambil berharap esok matahari bersinar cerah, mengeringkan sepatu gue yang baru saja terkena air jahanam milik seorang laki-laki laknat yang baru saja pipis dibawah pohon pisang (-_-)

2 comments:

  1. wakakaka... good job pril!! XD gw ngakak ngeliat post lo..

    ReplyDelete
  2. anyway, awalnya orang-orang selalu mengira bahwa laki-laki laknat itu adalah orang yang ngasih komen diatas komen gue yang ini wakawaka

    ReplyDelete

Tanya kenapa?