Saturday, August 22, 2009

Ke Kota Tua

Kemaren, tepatnya hari Jum’at tanggal 21 Agustus 2009, gue, Riris, Ika, Awan, Dhimar, dan Fina Wati telah menjelajahi Kota. Sebenarnya tadinya yang mau ikut ada 9 orang, ditambah Puput, Nona, dan Ajeng. Tapi puput ada masalah sama sang mama, jadinya sang mama tidak membolehkannya. Kalo Nona, karena dia asma. Kalo Ajeng, I don’t know. Okeeh! Lebih baik kita mulai aja ceritanya.

Gue mengkordinasikan teman-teman untuk datang jam 9. Apamaudikata bahwa anak-anak SMPN 49 itu suka ngaret, maka jadilah kita berangkat jam 10. Dari sekolah, kami berangkat naik angkot 06 sampe PGC, terus nyebrang, terus naek jembatan penyebrangan, terus beli tiket busway, terus nunggu busway, terus masuk ke buswaynya dengan berdesak-desakan.

Di dalam busway, gue terdiam. Selama perjalanan gue berpikir, kenapa orang-orang Jakarta menyebut bis yang saya naiki itu BUSWAY. Secara, busway itu artinya “jalan bis”. Berarti kalau “saya naik busway” artinya “saya naik jalan bis” dong? Okeeh! Mulai sekarang kita menyebutnya transjakarta.





Selama perjalanan dari PGC ke Senen, gue, Ika, Riris, dan Fina bergelantungan (hlo?). Dhimar dan Awan dapet tempat duduk dipertengahan jalan. Yo wes, ndak apa. Sumpah! Itu perjalanan TRANSJAKARTA yang paling extreme yang pernah gue rasain. Gue sampe terpontang-panting di dalamnya. Tapi pas Dhimar udah dapet tempat duduk, ntu busway gak lebay. Akhirnya gue dan Ika menyimpulkan bahwa busway itu terserang virus lebay-nya Dhimar (maaf Dhimar!! Hehe..).

Abis transit di Senen, terus kita naik busway (enakan ngomongnya busway daripada transjakarta) yang warnanya biru sampe di harmoni, terus kita transit dari sana ampe ke Kota. Pas turun dari busway, gue menarik napas dalam-dalam. Lalu gue tersenyum entah mengapa. Akhirnya gue sudah tidak berada di dalam bus gila itu. Nyampe disana, Dhimar dan Fina mampir ke WC Umum, tapi bayar 1000. Mahal!

Kita jalan dari sana ampe ke Kota Tua nya. Riris yang memandu jalan kita. Akhirnya setelah berjalan sekitar 500 meter (sok tau banget gue), kita pun sampai di Kota Tua! HURRRAAAYY!!! Tapi ini masih permulaan, alias masih di depan-depannya. Kita-kita pada norak ngeliat bangunan-bangunan tua, bahkan ngeliat tukang bangunan ama tukang es potong aja norak. Riris pun mengusulkan untuk bermain jempol-jempolan. Yang kalah, harus foto bersama tukang es potong. Karena feeling gue lagi bagus, gue pun menerima ajakkannya. Jadilah kita berenam bermain jempol-jempolan.

Yang pertama keluar Fina, sampe akhirnya Awan dan Riris mempertaruhkan nyawa mereka untuk bermain jempol-jempolan. Satu, dua, empat, juruspun dikeluarkan. Hingga akhirnya Riris kalah. Riris harus berfoto bersama tukang es potong. Haha, Rasakan! Namun, tukang es potongnya sedang sibuk melayani pembeli yang membludak. Akhirnya kami menunggu sambil berfoto-foto ria bersama, sampe itu tukang es sepi.

Kita menjanjikan kepada abang es nya kalo dia mau foto bareng kita, kita beli es nya. Si abang tersenyum tersipu-sipu. Mungkin dibenaknya saat itu ia berpikiran, “Wah, jangan-jangan entar fotonya dimuat di majalah, entar gue jadi kaya deh, gak perlu jualan es lagi..” akhirnya si abang menerima dengan pasrah.




Setelah berfoto-foto ria bersama abang es potong, kami pun berjalan lagi sampai ke samping gedung Fatahillah dan duduk di bola-bola batu. Begonya, kita semua gak tau kalo itu gedung Fatahillah. Kita malah nyariin gedung Fatahillah ampe muter-muter gak jelas. Dasar anak 49!




Akhirnya kita pun bertanya pada abang-abang minuman. Abang itu menunjuk ke arah gedung besar yang lurus dalam pandangan kita. “OOOHH!!” kata kami serentak seperti orang bego. Lalu kami berjalan sampe ke gedung Fatahillah. Murah looh! Bayar masuknya cuma 2000 rupiah. Lalu kami mengambil berbagai foto.

Tujuan utama kita di gedung Fatahillah adalah penjara bawah tanahnya. Seram looh. Masih ada bau darahnya.

Terus kita naik ke lantai atas, mulai dari foto bareng replika dewi perang, kaca yang bingkainya terbuat dari kayu jati yang dibuat abad 18, terus di depan lukisan Van Der Sapaaaa Getoo gue lupa namanya.

Terus kami berfoto di depan lukisan Mr dan Mrs De Witt. Tahukah anda bahwa mereka adalah sejarah penciptaan nama DUIT? Gini loh ceritanya. Mr dan Mrs De Witt adalah orang Belanda baik hati yang kaya raya. Mereka sering membagikan uang kepada masyarakat betawi zaman dulu. Jadi setiap melihat mereka, masyarakat Betawi memanggil-manggil nama mereka untuk minta uang, “De Witt, De Witt, De Witt!!”, oleh karena itu orang Betawi kebanyakan bilang uang “De Witt” yang dibaca “DUIT”. Getooo..

Setelah berpuas diri menjelajahi lantai atas, kami menjelajahi lantai bawah yang isinya benda-benda langka dan bersejarah. Seperti baju kaum baduy, baju kaum belanda dulu, alat-alat bercocok tanam, alat masak, rempah-rempah, prasasti-prasasti, kayak prasasti tugu, batu tulis, jambu, dll. Ada juga padrao. Gue jadi belajar PLKJ disana.







Abis itu kita makan di pinggiran. Gue, Ika, Awan, dan Fina makan mie ayam. Dhimar makan batagor. Riris nggak makan. Tapi mie ayam nya rasanya aneh. Gue jadi suuzon gitu sama abang mie nya. Yo wes, lebih baik lihat saja foto-foto dibawah ini agar menggugah selera anda yang sedang berpuasa. Huehhehhe (tertawa licik).




Abis makan, kita ke musium wayang. Disana adem banget. Sepi lagi. yaudah, kita gunakan kesempatan itu untuk berfoto sekaligus ngadem dan duduk. Tempat yang kita pilih untuk duduk adalah di depan sebuah batu raksasa yang menuliskan tentang perubahan nama Jayakarta menjadi Batavia oleh Jan Pieterzoon Coen. Enjoy it!







Setelah itu kami pun pulang. gue merasa berat meninggalkan kota tua ini, karena belum semuanya gue kunjungi. Terutama pelabuhan Sunda Kelapa. Gue pengen banget kesana. Gue pengen bernostalgia dengan pelajaran PLKJ (hloh?). tapi waktu telah menunjukkan pukul 2.30. Kami pun berjalan kaki ke halte buswaynya. Pas mau keluar, kita ketemu lagi ama tukang es potong yang kita ajak foto. Dia tersenyum melihat kita. Mungkin dalam hatinya berkata, “Semoga ntar fotonya beneran dimasukkin ke majalah..”

Terus kita duduk dengan santai di dalam busway. Tiba-tiba Ika ketawa.
Gue : “Kenapa lo, ka?”
Ika : (berbisik kepada gue) “Dhimar duduk bisnya gak lebay..”
Kami pun tertawa. Dhimar sepertinya merasa dirinya sedang diperbincangkan oleh dua orang nggak jelas ini. namun ia hanya pasrah atas kehendak tuhan (sekali lagi ampun, Dhim..)

Kita transit di Harmoni, dan naik lagi sampe ke Senen. Disanalah kejadian mengerikan dimulai. Dhimar tidak lagi duduk alias berdiri. Itu artinya bus sedang lebay. Di saat seisi penumpang terguncang di dalam bus, gue merasakan ada yang memegang kantong gue. Gue nengok ke belakang, terus gue menjauh. Sekali lagi gue merasakan itu lagi. gue takut pastinya. Gue mencoba berpikir jernih. Orang  berniat merogoh kantong gue!

Gue gak tau harus ngapain. Begonya gue cuma diem. Gue mencoba mengingat kembali. Gue ngambil uang 5000 untuk bayar bus tadi, dan gue naro kembaliannya di kantong. Terus gue beli minum pake uang 5000 lagi dan kembali 2000 gue taro di kantong. Otomatis isi kantong gue Cuma 3.500 rupiah. Gue tersenyum puas. Bodo amat dia mau ngerogoh kantong gue. Cuma segitu mah kalo diambil gue anggep amal ama orang gak mampu, ya gak?

Pas transit di Senen, gue menceritakan kejadian tadi pada teman-teman. mereka pada nanya gimana ciri-ciri pelakunya. Gue bingung. Gue mencoba mengingat lagi. kayaknya sih orang bule. Percaya gak? Tapi kayaknya dia. Soalnya dialah orang yang posisinya paling deket ama gue di bus tadi. Gue coba ngerogoh kantong gue, ternyata uang gue tinggal 3000. Wah, 500 rupiah hilang. Buat apa dia ngambil duit gue Cuma 500 rupiah? Aneh!

Terus kita naik busway ampe PGC. Kalo Dhimar ampe Kp. Rambutan. Terus sebelum pulang, gue, Riris, ama Fina beli es kelapa di deket pinggir jalan. Terus kita go home deh, ke rumah masing-masing.

1 comment:

  1. anjir koplak typo banget gue nulis museum jadi musium -_-

    ReplyDelete

Tanya kenapa?